Adipati Loka

coret yang tidak perlu

Menu Close

Tag: Puisi (page 1 of 2)

O, Kekasih

Puisi kekasih

O, kekasih

Tak ada yang perlu dirayakan
Rencana demi rencana siapa
Kemudian cahaya digulung
Segala dihambur-hempaskan

Kian mendarah daging, merasuk tulang sumsum
Ini kekasihku !
Itu kekasihku !
Maka kekasihmu juga kekasihku
Kekasihku jangan

Pada suatu ketika
O, kekasih ;
Mari lanjutkan omong kosongmu, muslihatmu, angkara murkamu, dalam pembaringan yang panjang sampai kemudian bangkit.

Selamat beristirahat

(Pct, 130717)

Dunia ; sebelum titik

Puisi Dunia

 

DUNIA
sebelum titik

aku mencintaimu cukup dalam gerilya puisi
sesat dan kalah oleh siasatnya sendiri
bahwa kata cuma batu
kota kian berdebu
di dalamnya, sunyi dapat membeku
lebih lama dan mengeras pikirmu

kita sedang menuju hal serupa
dan cara yang sama

kilat matahari di pelipis daun ini
seperti itu kita ulang kembali
terbitnya
tenggelamnya
geletarnya
tentu juga ‘bedebahnya

(Pct, 120717)

 

Alamat

ia sepanggung dengan denyut kota dan hal-hal yang salah alamat

mirip tubuhmu, makinya
dengung jarum jam dinding itu bukan cuma tahu kapan waktu yang tepat untuk bunuh diri, ia juga tahu bagaimana bayang sesungguhnya tak pernah bertekuk lutut, hanya beralih tempat mengapung dan berbelit

boleh jadi di matamu atau mata kekasihmu yang pernah seranjang dengan

tunggu !
kau bilang mata? itu mata siapa !
hanya ada gerombolan serangga di sini.

lantas terbahak
selantang angin di renung rimba dan segala hal yang tersinggung adalah “kita yang hanya babu di sini, jangan sampai tuan marah”

kupingnya berdenging. seperti ada cinta memanggilnya gegas berkemas dan pulang.

sudah itu.

selebihnya milik tokoh yang kena ciduk pamong praja
“dulunya penyair” kata saksi mata.

(Mdn, 200517)

© 2018 Adipati Loka. All rights reserved.

error: Content is protected !!