Pejabat Kelamin

Essai Pejabat Kelamin

“Bukan melulu dendam dan rindu, pandangan—terlepas dari kemungkinan untuk disah-batalkan, dibeku-cairkan—pun harus dibayar tuntas.”

Sadermo Dengkul tidak berarti patah hati —terhadap hal-hal yang terputus—untuk kemudian merumuskan liang lahatnya sendiri. Ia sekedar membangun detail sejarahnya dengan penuh gairah yang sudah dititahkan. Tanpa intervensi. Tanpa dialog.

Aku tak berani menduga ia pun amat perhitungan layaknya gerombolan animasi di jaman atas kerudung bawah warung. Namun membayangkan berlangsungnya karakter, tata-letak, efek visual berikut frame selanjutnya, tidak dapat dipungkiri memiliki pengaruh besar terhadap kerja hormon dan asmaranya. Walau…ini bukan niscaya. Bukan pula harga mati.

Kegalauan selanjutnya adalah apakah setiap yang ganjil layak diganjal-singkirkan? Padahal, Kota Gotham dalam Night on Earth, dunia mirip ribuan gambar yang berganti-ganti di layar, dan berganti-ganti pula cara kita memandangnya. Dus, rangsangan yang terserap sangat bergantung di sudut mana kita bersarang, dan dari lubang mana kita mengintip tetangga.

Sadermo Dengkul tidak sekaligus membenarkan bahwa ‘kehormatan cuma gincu.’ Di sisi lain ia tidaklah menampik jika suatu ketika kaca benggala mengumpat ; kehormatan hanya milik pejabat kelamin. Toh, ia tak butuh pranala luar. Termasuk multi-tafsir dan gunjinganmu. Ia hanya tahu menyisir bila harus menyisir. Mengendap bila sepatutnya mengendap. Menggonggong bila selayaknya menggonggong.

Kalau menurutmu, Sadermo Dengkul adalah pemburu, bisa jadi ia pemburu yang gagal dan kesepian. Pemburu yang justru menjadi mangsa sekaligus dihabisi oleh pikirannya sendiri. Laiknya penyair yang diam-diam menjadi hantu, dan gemetar oleh bayangannya sendiri.

Walhasil, yang aku kawatirkan bukanlah siapa sesungguhnya Sadermo Dengkul. Melainkan, kala tiba masa ia berdiri di ambang tebing, dan membayangkan janda sebelah dirinya bersayap.

9

Comments are closed.

Adipati Loka

Up ↑

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.