Adipati Loka

coret yang tidak perlu

Menu Close

Author: adipati loka (page 2 of 3)

Alamat

ia sepanggung dengan denyut kota dan hal-hal yang salah alamat

mirip tubuhmu, makinya
dengung jarum jam dinding itu bukan cuma tahu kapan waktu yang tepat untuk bunuh diri, ia juga tahu bagaimana bayang sesungguhnya tak pernah bertekuk lutut, hanya beralih tempat mengapung dan berbelit

boleh jadi di matamu atau mata kekasihmu yang pernah seranjang dengan

tunggu !
kau bilang mata? itu mata siapa !
hanya ada gerombolan serangga di sini.

lantas terbahak
selantang angin di renung rimba dan segala hal yang tersinggung adalah “kita yang hanya babu di sini, jangan sampai tuan marah”

kupingnya berdenging. seperti ada cinta memanggilnya gegas berkemas dan pulang.

sudah itu.

selebihnya milik tokoh yang kena ciduk pamong praja
“dulunya penyair” kata saksi mata.

(Mdn, 200517)

Pejabat Kelamin

Essai Pejabat Kelamin

“Bukan melulu dendam dan rindu, pandangan—terlepas dari kemungkinan untuk disah-batalkan, dibeku-cairkan—pun harus dibayar tuntas.”

Sadermo Dengkul tidak berarti patah hati —terhadap hal-hal yang terputus—untuk kemudian merumuskan liang lahatnya sendiri. Ia sekedar membangun detail sejarahnya dengan penuh gairah yang sudah dititahkan. Tanpa intervensi. Tanpa dialog.

Aku tak berani menduga ia pun amat perhitungan layaknya gerombolan animasi di jaman atas kerudung bawah warung. Namun membayangkan berlangsungnya karakter, tata-letak, efek visual berikut frame selanjutnya, tidak dapat dipungkiri memiliki pengaruh besar terhadap kerja hormon dan asmaranya. Walau…ini bukan niscaya. Bukan pula harga mati.

Kegalauan selanjutnya adalah apakah setiap yang ganjil layak diganjal-singkirkan? Padahal, Kota Gotham dalam Night on Earth, dunia mirip ribuan gambar yang berganti-ganti di layar, dan berganti-ganti pula cara kita memandangnya. Dus, rangsangan yang terserap sangat bergantung di sudut mana kita bersarang, dan dari lubang mana kita mengintip tetangga.

Sadermo Dengkul tidak sekaligus membenarkan bahwa ‘kehormatan cuma gincu.’ Di sisi lain ia tidaklah menampik jika suatu ketika kaca benggala mengumpat ; kehormatan hanya milik pejabat kelamin. Toh, ia tak butuh pranala luar. Termasuk multi-tafsir dan gunjinganmu. Ia hanya tahu menyisir bila harus menyisir. Mengendap bila sepatutnya mengendap. Menggonggong bila selayaknya menggonggong.

Kalau menurutmu, Sadermo Dengkul adalah pemburu, bisa jadi ia pemburu yang gagal dan kesepian. Pemburu yang justru menjadi mangsa sekaligus dihabisi oleh pikirannya sendiri. Laiknya penyair yang diam-diam menjadi hantu, dan gemetar oleh bayangannya sendiri.

Walhasil, yang aku kawatirkan bukanlah siapa sesungguhnya Sadermo Dengkul. Melainkan, kala tiba masa ia berdiri di ambang tebing, dan membayangkan janda sebelah dirinya bersayap.

Begundal

nyatanya yang teramat lengking itu bukan salak anjing—

sebongkah batu kian padat di kepalamu

konon tak ada yang ganjil
bahkan ketika gadis jelita menjadikannya altar samadi

sepuluh kalender lalu, bayang purnama mencurah bau mesiu
“menebus nyawa” suara itu kekal terngiang ; ngilu
lihat, gadis perawan itu bergeming
atau ingin sekali membuka mata (hanya ingin) pada kau yang kedapat regang dalam kepalamu sendiri

“ini peluru yang sama” ah, persis desismu

kau tak sempat meludah bilang keparat

hanya

bulan tahu yang lebih bangsat ; kini tuntas

(Pct, 050916)

© 2018 Adipati Loka. All rights reserved.

error: Content is protected !!