O, Kekasih

O, kekasih Tak ada yang perlu dirayakan Rencana demi rencana siapa Kemudian cahaya digulung Segala dihambur-hempaskan Kian mendarah daging, merasuk tulang sumsum Ini kekasihku ! Itu kekasihku ! Maka kekasihmu juga kekasihku Kekasihku jangan Pada suatu ketika O, kekasih ; Mari lanjutkan omong kosongmu, muslihatmu, angkara murkamu, dalam pembaringan yang panjang sampai kemudian bangkit. Selamat... Continue Reading →

Dunia ; sebelum titik

  DUNIA —sebelum titik— aku mencintaimu cukup dalam gerilya puisi sesat dan kalah oleh siasatnya sendiri bahwa kata cuma batu kota kian berdebu di dalamnya, sunyi dapat membeku lebih lama dan mengeras pikirmu kita sedang menuju hal serupa dan cara yang sama kilat matahari di pelipis daun ini seperti itu kita ulang kembali terbitnya tenggelamnya... Continue Reading →

Hidup, dan nikmatnya bertindak bodoh

Gerangan ini bukan tidak memahami betapa bosannya hidup dengan wajah yang melulu sama. Butuh topeng lain untuk menuntaskan lakon demi lakon. Di luar sana, yang serba tak tentu itu, logis tak sepenuhnya diterima untuk ambil peran, kecuali ia berani dianggap konyol. Kemudian ilusilah (meski tak jujur) yang justru mendapat pengakuan, kelas, dan perjamuan. Menjadi dosa... Continue Reading →

Adipati Loka

Up ↑

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.