Hidup, dan tindakan bodoh

Gerangan ini bukan tidak memahami betapa bosannya hidup dengan wajah yang melulu sama. Butuh topeng lain untuk menuntaskan lakon demi lakon. Di luar sana, yang serba tak tentu itu, logis tak sepenuhnya diterima untuk ambil peran, kecuali ia berani dianggap konyol. Kemudian ilusilah (meski tak jujur) yang justru mendapat pengakuan, kelas, dan perjamuan.

Menjadi dosa besarlah jika kelak gerangan ini sampai didepersonifikasi sebagai gerangan sumbu pendek. Walau sesungguhnya tak sekejam itu, gerangan ini paham betul, taktik adalah hukum agar tak tereliminasi dari sejarah, eh, panggung. Itu.

Konon, di panggung inilah tempat gerangan ini mengendalikan peradaban. Hidup dalam akun-akun palsu dengan cinta, sex, dan ketegangan. Asyik, tapi gelap.

Waktu terus meruncing, sedang ingatan semakin tumpul. Mereka terus menggelak tawa, tanpa satupun tahu adakah hal-hal yang lucu. Mereka sangat perlu meratap-tangis, tanpa satupun tahu adakah hal-hal yang tragis. Jangan tanya, sebab hidup kerap tak perlu alasan, bukan. Atau, sebab hidup adalah keberanian menikmati tindakan bodoh. Asal, jangan bilang ada yang salah atau sempal uratnya di sini.
Tapi, lebih dihayati. Tentu, sambil menghibur diri tentang kisah gerombolan belatung yang selalu siap menunggu mangsa berikutnya.