nyatanya yang teramat lengking itu bukan salak anjing—

sebongkah batu kian padat di kepalamu

konon tak ada yang ganjil
bahkan ketika gadis jelita menjadikannya altar samadi

sepuluh kalender lalu, bayang purnama mencurah bau mesiu
“menebus nyawa” suara itu kekal terngiang ; ngilu
lihat, gadis perawan itu bergeming
atau ingin sekali membuka mata (hanya ingin) pada kau yang kedapat regang dalam kepalamu sendiri

“ini peluru yang sama” ah, persis desismu

kau tak sempat meludah bilang keparat

hanya

bulan tahu yang lebih bangsat ; kini tuntas

(Pct, 050916)