ia sepanggung dengan denyut kota dan hal-hal yang salah alamat

mirip tubuhmu, makinya
dengung jarum jam dinding itu bukan cuma tahu kapan waktu yang tepat untuk bunuh diri, ia juga tahu bagaimana bayang sesungguhnya tak pernah bertekuk lutut, hanya beralih tempat mengapung dan berbelit

boleh jadi di matamu atau mata kekasihmu yang pernah seranjang dengan

tunggu !
kau bilang mata? itu mata siapa !
hanya ada gerombolan serangga di sini.

lantas terbahak
selantang angin di renung rimba dan segala hal yang tersinggung adalah “kita yang hanya babu di sini, jangan sampai tuan marah”

kupingnya berdenging. seperti ada cinta memanggilnya gegas berkemas dan pulang.

sudah itu.

selebihnya milik tokoh yang kena ciduk pamong praja
“dulunya penyair” kata saksi mata.

(Mdn, 200517)