Adipati Loka

coret yang tidak perlu

Menu Close

O, Kekasih

Puisi kekasih

O, kekasih

Tak ada yang perlu dirayakan
Rencana demi rencana siapa
Kemudian cahaya digulung
Segala dihambur-hempaskan

Kian mendarah daging, merasuk tulang sumsum
Ini kekasihku !
Itu kekasihku !
Maka kekasihmu juga kekasihku
Kekasihku jangan

Pada suatu ketika
O, kekasih ;
Mari lanjutkan omong kosongmu, muslihatmu, angkara murkamu, dalam pembaringan yang panjang sampai kemudian bangkit.

Selamat beristirahat

(Pct, 130717)

Dunia ; sebelum titik

Puisi Dunia

 

DUNIA
sebelum titik

aku mencintaimu cukup dalam gerilya puisi
sesat dan kalah oleh siasatnya sendiri
bahwa kata cuma batu
kota kian berdebu
di dalamnya, sunyi dapat membeku
lebih lama dan mengeras pikirmu

kita sedang menuju hal serupa
dan cara yang sama

kilat matahari di pelipis daun ini
seperti itu kita ulang kembali
terbitnya
tenggelamnya
geletarnya
tentu juga ‘bedebahnya

(Pct, 120717)

 

Hidup, dan nikmatnya bertindak bodoh

Hidup, dan tindakan bodoh

Gerangan ini bukan tidak memahami betapa bosannya hidup dengan wajah yang melulu sama. Butuh topeng lain untuk menuntaskan lakon demi lakon. Di luar sana, yang serba tak tentu itu, logis tak sepenuhnya diterima untuk ambil peran, kecuali ia berani dianggap konyol. Kemudian ilusilah (meski tak jujur) yang justru mendapat pengakuan, kelas, dan perjamuan.

Menjadi dosa besarlah jika kelak gerangan ini sampai didepersonifikasi sebagai gerangan sumbu pendek. Walau sesungguhnya tak sekejam itu, gerangan ini paham betul, taktik adalah hukum agar tak tereliminasi dari sejarah, eh, panggung. Itu.

Konon, di panggung inilah tempat gerangan ini mengendalikan peradaban. Hidup dalam akun-akun palsu dengan cinta, sex, dan ketegangan. Asyik, tapi gelap.

Waktu terus meruncing, sedang ingatan semakin tumpul. Mereka terus menggelak tawa, tanpa satupun tahu adakah hal-hal yang lucu. Mereka sangat perlu meratap-tangis, tanpa satupun tahu adakah hal-hal yang tragis. Jangan tanya, sebab hidup kerap tak perlu alasan, bukan. Atau, sebab hidup adalah keberanian menikmati tindakan bodoh. Asal, jangan bilang ada yang salah atau sempal uratnya di sini.
Tapi, lebih dihayati. Tentu, sambil menghibur diri tentang kisah gerombolan belatung yang selalu siap menunggu mangsa berikutnya.

© 2018 Adipati Loka. All rights reserved.

error: Content is protected !!